Monday, September 12, 2016

Secangkir Kopi dan Pencakar Langit


Pengarang:Aqessa Aninda
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 354

Satrya selalu berpendapat kalau perempuan itu mau tak mau dinilai dari penampilannya. Wajah dan cara berpakaian menempati urutan teratas dalam checklist-nya. Baru kemudian selera musik, film, dll untuk menentukan apakah mereka akan nyambung ketika ngobrol atau tidak. Terakhir, baru kepribadiannya. Namun, ketika pindah ke kantor baru, Satrya malah menyukai seorang perempuan biasa saja, Athaya Shara. Athaya tidak pernah tampil mencolok seperti rekan-rekan sekerjanya yang lain yang berdandan habis-habisan, menggunakan pakaian yang menunjukkan kemolekan tubuh, dan wangi parfum yang bahkan tercium dari jauh. Athaya bekerja di bagian IT dan merupakan perempuan satu-satunya; unik. Sejak itu, melihat Athaya di kantor menjadi penyemangat Satrya.

Athaya sendiri memang bukan tipe perempuan yang berpikir muluk-muluk. Ia hanya ingin bekerja sebaik mungkin dan mendapatkan uang untuk keluarganya. Athaya adalah tulang punggung keluarga sejak ayahnya jatuh sakit. Namun di kantor, ada satu pria yang ia sukai, Ghilman namanya. Laki-laki Business Analyst itu selalu mampu menggetarkan hati Athaya. Sayang, Ghilman sudah memiliki kekasih.

Satrya tahu kalau di hati Athaya ada lelaki lain, dan sepertinya Satrya tahu orangnya. Ghilman bukanlah orang yang asing untuk Satrya. Sebaliknya, hubungan mereka cukup dekat. Mereka satu grup Whatsapp dan kerap bertukar banyolan. Namun, apakah ini berarti Satrya harus menyerah? Atau justru maju? Toh, Athaya tidak mungkin bisa memiliki Ghilman dan Satrya percaya diri kalau dia bisa membuat Athaya jatuh cinta padanya.

Di dalam gedung pencakar langit yang dingin dan angkuh, dengan segala tekanan deadline dan project, akankah ditemukan secangkir kopi yang menghangatkan hati?

*****

Membaca kisah beralatar perkantoran selalu menarik untuk saya, apalagi kalau disertai detail pekerjaan dan kesibukan para tokohnya terkait pekerjaan yang dijalani. Rasanya dekat dengan kehidupan sehari-hari saya, di mana sebagian besar waktu saya memang dihabiskan di kantor (selain di jalan -_-). Walau pekerjaan kantoran terkesan monoton dan penuh tekanan, sebenarnya selalu ada yang menarik dari interaksi para karyawannya. Seperti sudah saya bilang, hidup para pekerja kantoran memang sebagian besar dihabiskan di kantor. Oleh karena itu, tak heran bila kemudian rekan kerja pun sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Mulai bercanda sampai perang mulut pun tak bisa dihindarkan (karena kalau perang fisik sih bisa-bisa langsung di-SP3 ya). Kisah percintaan antar karyawan juga menjadi hal yang lumrah.

Karya perdana Aqessa ini memiliki segala hal yang sudah saya sebutkan di atas. Gambaran mengenai kehidupan perkantorannya begitu detail dan membuat saya sering senyum-senyum sendiri ketika membaca karena mengingat pengalaman pribadi. Memang sih, sejauh ini saya belum pernah memiliki rekan sekantor yang serusuh anak-anak tim IT Athaya, namun di kantor pun obrolan saya dengan rekan-rekan kerja sering kali tak terduga dan membuat ngakak. Dan mengenai obsesi Athaya pada Ghilman... Rasanya jadi ingat diri sendiri yang suka memata-matai satu dosen keren di kantor. Ngoahahahaha!!! Intinya, novel ini "gue banget" deh, sejauh mengenai kehidupan perkantorannya ya... Kalau cerita cintanya sih sayangnya nggak (lari trus jongkok di pojokan).

Mengenai inti ceritanya... Walau sebenarnya bukan tema baru, tetap terasa fresh karena diolah dengan baik. Secara garis besar, ini adalah cerita mengenai menemukan pendamping hidup yang pas. Pas di sini bukan berarti pas seperti keinginan kamu, bukan juga berarti mendapatkan pendamping hidup yang serbasempurna di mata masyarakat umum, tetapi pas dengan kebutuhan kamu. Athaya yang menjadi rebutan di novel ini memiliki dua pilihan: Satrya, si anak baru yang gantengnya kebangetan, berkecukupan secara finansial, dan selalu membuat Athaya tertawa dengan jokes-nya, atau Ghilman yang manly dan diam-diam menghanyutkan, namun sudah punya kekasih. Kalau mengikuti kata hati, pasti Athaya memilih Ghilman, karena dia sudah menyukai lelaki itu sejak lama. Namun, mengikuti akal sehat, tentu Satrya adalah pilihan yang paling pas.

Proses yang dilalui Athaya berjalan natural dan apa adanya, tanpa dramatisasi berlebihan, tapi justru di situlah kelebihan Aqessa dalam membangun plotnya. Perlahan-lahan, lewat kejadian demi kejadian yang terjadi di kantor, pembaca akan menjadi lebih mengenal sifat dan karakter masing-masing lelaki. Pembaca juga akan semakin mengenal kepribadian Athaya dan apa yang menjadi beban pikirannya. Dan semakin halaman bergulir, pembaca akan semakin bingung, lelaki mana yang sebaiknya dipilih Athaya (hehe...)

Overall, Secangkir Kopi dan Pencakar Langit merupakan buku yang wajib kamu baca jika kamu menyukai cerita office romance dengan detail yang hidup. Oh iya, sebelumnya, ada satu hal cukup penting yang perlu saya ceritakan juga nih karena menyangkut selera kamu. Di novel ini, Aqessa menggunakan gaya penulisan yang cukup "liar", antara baku dan tidak baku. Kadang kamu menemukan sebaris kalimat narasi yang formal, namun berikutnya informal. Beberapa teman yang saya kenal yang sudah membaca mempermasalahkan hal ini, tapi buat saya pribadi hal ini tidak menjadi masalah sepanjang terasa luwes. Malah, gaya menulis Aqessa ini mengingatkan saya akan gaya Adhitya Mulya dan Hilman Hariwijaya. Kalau kamu punya selera seperti saya, maka saya rasa kamu akan menyukai novel ini. Namun, kalau kamu tipe yang teliti dan mudah terganggu oleh gaya bahasa campur-aduk, bila kamu tetap penasaran dengan novel ini, kamu bisa sedikit menurunkan ekspektasi kamu.

No comments:

Post a Comment

What is your thought?